Esai – Karel Sadsuitubun



Karel Satsuitubun adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang berasal dari Maluku. Ia dikenal sebagai anggota kepolisian yang gugur dalam peristiwa bersejarah G30S/PKI pada tahun 1965. Dalam peristiwa tragis tersebut, Karel menunjukkan keberanian luar biasa ketika berusaha mencegah aksi pemberontakan serta melindungi Wakil Perdana Menteri saat itu, Dr. Johannes Leimena, dari ancaman yang mengintai. Ia tidak mundur menghadapi bahaya, bahkan mengorbankan nyawanya demi menjaga keselamatan orang lain dan stabilitas negara. Tindakan heroiknya menjadi simbol keberanian yang sejati. Bukan hanya dari orang-orang yang berdiri di garis depan sebagai pemimpin, tetapi juga dari mereka yang menjalankan tugas dalam kesetiaan dan ketekunan, dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab.

Perjuangan Karel Satsuitubun mencerminkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pahlawan. Pahlawan tidak harus seorang tokoh besar atau pemimpin karismatik. Pahlawan bisa muncul dari siapa saja yang dengan tulus menjalankan panggilannya, yang berani berdiri demi kebenaran dan kemanusiaan, serta rela berkorban tanpa pamrih. Dalam sosok Karel, kita belajar bahwa keberanian, kesetiaan dalam tugas, pengorbanan, dan cinta tanah air adalah nilai-nilai luhur yang tidak lekang oleh waktu.

Nilai-nilai tersebut sejatinya sangat sejalan dengan ajaran Kitab Suci. Dalam Yosua 1:9, Tuhan berkata, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan janganlah gemetar, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau ke mana pun engkau pergi.” Ayat ini menegaskan bahwa keberanian bukan sekadar tindakan fisik, melainkan sikap hati yang teguh karena keyakinan akan penyertaan Tuhan. Dalam Kolose 3:23 kita diingatkan bahwa, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ini selaras dengan kesetiaan Karel dalam menjalankan tugasnya sebagai abdi negara, bukan demi pujian atau kekuasaan, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab suci. Sementara itu, Yohanes 15:13 menyatakan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Pengorbanan Karel menjadi cerminan dari kasih yang agung itu, sebuah kasih yang tak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.

Lebih jauh lagi, semangat kepahlawanan Karel Satsuitubun juga sangat relevan dengan nilai-nilai Vinsensian, yang menjadi bagian penting dalam spiritualitas pelayanan dan pendidikan Katolik. Salah satu nilai utama Vinsensian adalah Zelus Animarum, semangat untuk keselamatan jiwa-jiwa, di mana seseorang rela memberikan segalanya demi kebaikan sesama. Dalam konteks ini, Karel menunjukkan penyelamatan jiwa-jiwa yang murni dan bukan demi dirinya, tetapi demi keselamatan orang lain. Ia juga mencerminkan nilai Humilitas atau kerendahan hati. Ia tidak mencari ketenaran atau penghargaan. Justru dalam kerendahan hatinya, ia rela memberikan hidupnya demi melindungi satu jiwa yang memiliki peran besar bagi negara saat itu.

Keteladanan ini menjadi panggilan bagi generasi muda saat ini untuk membangun bangsa tidak hanya dengan kecerdasan dan prestasi akademik, tetapi juga dengan iman, kesetiaan, dan kasih. Dalam dunia yang semakin individualistis dan materialistis, pengorbanan seperti yang dilakukan Karel mengingatkan kita akan pentingnya hidup dalam pelayanan. Pengabdian kepada bangsa dan sesama adalah bentuk konkret dari kasih kepada Tuhan. Semangat seperti inilah yang perlu ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, di keluarga, di komunitas, dan dimanapun kita berada.

Akhirnya, dari kehidupan Karel Satsuitubun, kita diajak untuk melihat bahwa pengabdian dan pengorbanan bukanlah hal yang sia-sia. Justru di sanalah letak makna terdalam dari hidup yang dijalani dalam iman dan kasih. Ia menjadi inspirasi bahwa setiap langkah kecil, jika dilakukan dengan ketulusan dan untuk kemuliaan Tuhan, dapat menjadi bagian dari sejarah besar bangsa dan iman kita.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *