
- Latar Belakang Kelahiran dan Keluarga
- Nama lengkapnya adalah Raden Ayu Maria Soelastri Sasraningrat.
- Ia lahir pada 22 April 1898 di Yogyakarta sebagai putri ketiga dari Pangeran Sasraningrat (Putra Mahkota Sri Paku Alam III) dan Bendara Raden Ayu Sasraningrat.
- R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat merupakan adik kandung dari R.A. Sutartinah Sasraningrat (Nyi Hajar Dewantara, pendiri Wanita Taman Siswa) dan R.A. Catharina Soekirin Sasraningrat, yang kelak menjadi ketua pertama organisasi yang dirintis R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat.
- Dari garis ayah, ia merupakan cucu Paku Alam III, seorang tokoh nasionalis yang disegani. Sementara dari pihak ibu, ia adalah cicit Pangeran Diponegoro.
- Pendidikan dan Awal Kehidupan
- Pada tahun 1906, atas rekomendasi Romo van Lith, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat diterima masuk Europeesche Meisjesschool yang dikelola oleh Ordo Suster Fransiskanes Kidul Loji Mataram di Yogyakarta.
- Sejak kecil, ia menunjukkan ketertarikan besar terhadap berbagai budaya, termasuk budaya Barat. Kecerdasannya serta pertanyaan kritis terhadap dominasi penjajah mendorongnya untuk berpikir maju dan bersikap nasionalis.
- Kepedulian Sosial dan Pemikiran
- Sejak remaja, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat memiliki kepekaan tinggi terhadap nasib rakyat kecil, terutama buruh perempuan di pabrik cerutu Negresco dan pabrik gula di Yogyakarta. Ia bahkan bertemu langsung dengan pemilik pabrik Belanda untuk menuntut perbaikan jam kerja, pemberian upah yang adil, serta penyediaan fasilitas kesehatan yang layak.
- Dasar perjuangannya sangat dipengaruhi oleh ajaran sosial Gereja Katolik, khususnya ensiklik Rerum Novarum (1891) dan Quadragesimo Anno (1931) yang menekankan pentingnya keadilan sosial.
- Kehidupan Keluarga dan Warisan
- Pada tahun 1914, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menikah dengan Drh. R.M. Jacobus Soejadi Darmaseputra, seorang dokter hewan yang aktif dalam politik antikolonial. Suaminya kemudian menjadi anggota Volksraad, mewakili umat Katolik pribumi.
- R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat wafat pada 8 September 1975 di Semarang dan dimakamkan di Kompleks Gua Maria Kerep Ambarawa. Ia meninggalkan beberapa anak, sebagian diantaranya masih hidup hingga masa kemudian.
- Perjuangan yang Dilakukan
- Pendiri Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI)
- Pada 26 Juni 1924, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat bersama rekan-rekannya mendirikan organisasi Poesara Wanita Katholiek, yang kemudian berkembang menjadi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).
- Organisasi ini bertujuan meningkatkan harkat dan martabat perempuan Katolik melalui pendidikan, kursus membaca dan menulis, pelatihan keterampilan seperti menjahit dan merajut, serta peningkatan kesehatan.
- Mereka juga aktif mengikuti berbagai Kongres Perempuan Indonesia, termasuk Kongres 1928, bersama organisasi wanita lainnya.
- Ketika WKRI berusia 50 tahun (tahun 1974), R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menuliskan pengalamannya bahwa langkah awal perjuangan dimulai dengan berbicara langsung kepada pengusaha Katolik Belanda di pabrik cerutu dan pabrik gula untuk memperjuangkan hak-hak buruh perempuan berdasarkan prinsip sosial Gereja Katolik yang tercantum dalam Rerum Novarum dan Quadragesimo Anno.
- Pembelaan Buruh Perempuan di Pabrik Cerutu dan Gula
- R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat terjun langsung memperjuangkan hak-hak buruh perempuan di pabrik cerutu Negresco dan berbagai pabrik gula di Yogyakarta.
- Ia tidak hanya mendengar keluhan para pekerja, tetapi juga mendatangi langsung pemilik pabrik Belanda untuk menuntut perbaikan jam kerja, pemberian upah layak, dan fasilitas kesehatan yang memadai.
- Berpegang pada Ajaran Sosial Gereja Katolik, khususnya ensiklik Rerum Novarum, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menegaskan bahwa iman harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam membela martabat manusia. Perjuangannya menjadi contoh awal gerakan advokasi tenaga kerja perempuan di Indonesia.
- Penggerak Pendidikan dan Kursus Keterampilan
- R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menyadari bahwa kebodohan dan ketidakberdayaan ekonomi merupakan akar ketertindasan perempuan. Oleh sebab itu, ia mengorganisasi kelas membaca, menulis, dan berhitung bagi perempuan Katolik serta para buruh.
- Ia juga memimpin berbagai kursus keterampilan praktis, seperti menjahit, merajut, dan mengelola rumah tangga, agar perempuan memiliki penghasilan tambahan dan kemandirian finansial.
- Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan taraf hidup keluarga, tetapi juga membuka peluang kerja baru sehingga perempuan mampu memperjuangkan hak-haknya secara lebih setara di masyarakat.
- Peran Aktif dalam Gerakan Perempuan Indonesia
- Sebagai wakil Poesara Wanita Katholiek, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menjadi peserta penting Kongres Perempuan Indonesia I tahun 1928 di Yogyakarta, yang menjadi tonggak kebangkitan perempuan Nusantara.
- Dalam forum lintas organisasi dan agama tersebut, ia ikut merumuskan agenda nasional untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan, dan peran politik perempuan.
- Kehadirannya menegaskan bahwa perempuan Katolik tidak hanya peduli pada kepentingan internal gereja, tetapi juga berperan aktif dalam perjuangan kebangsaan. Semangat nasionalisme dan persatuan perempuan Indonesia pun semakin kuat.
- Pelayanan Sosial Berbasis Iman Katolik
- Menghidupi prinsip “iman yang bekerja dalam kasih”, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menggerakkan berbagai kegiatan sosial di paroki dan lingkungan sekitar.
- Ia terlibat dalam pelayanan bagi keluarga miskin, memberikan bantuan pangan, serta memfasilitasi penyuluhan kesehatan dan gizi bagi anak-anak buruh, terutama saat wabah penyakit melanda Yogyakarta.
- Dengan teladan doa harian, kesederhanaan hidup, dan keberanian moral, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menunjukkan bahwa ajaran sosial Gereja bukan sekadar teori, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata demi menolong sesama tanpa memandang suku dan agama.
- Dukungan terhadap Gerakan Nasional dan Keluarga Pejuang
- Dalam kehidupan rumah tangga, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menjadi pendamping setia Drh. R.M. Jacobus Soejadi Darmaseputra, yang aktif di Volksraad dan gerakan antikolonial.
- Rumah mereka kerap dijadikan tempat pertemuan para tokoh Katolik dan nasionalis untuk membahas gagasan kemerdekaan serta keadilan sosial.
- R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga memberi masukan, semangat perjuangan, dan menanamkan nilai cinta tanah air kepada anak-anaknya. Ia turut mendukung berbagai inisiatif sosial-politik yang memperkuat semangat menuju kemerdekaan Indonesia.
- Nilai Kekatolikan
- R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menghidupi nilai-nilai kekatolikan melalui iman yang kokoh, kesetiaan terhadap doa dan sakramen, serta semangat pelayanan penuh kasih kepada sesama, khususnya mereka yang lemah dan membutuhkan.
- Ia menampilkan kesederhanaan hidup, kerendahan hati, serta keberanian moral dalam menghadapi tantangan. Sebagai seorang Katolik yang mencintai tanah air, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat memadukan iman dengan nasionalisme, sehingga menjadi teladan tentang bagaimana orang beriman dapat menjadi garam dan terang dunia bagi masyarakat serta bangsanya.
- Alasan Tokoh Ini Masih Relevan dengan Kehidupan Masa Kini
- Perlindungan Hak Pekerja Perempuan
- Sejak tahun 1920-an, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat telah memperjuangkan upah layak, jam kerja wajar, dan kesehatan bagi buruh perempuan di pabrik cerutu dan gula.
- Relevansi kini: Banyak pekerja perempuan Indonesia, termasuk buruh migran dan pekerja sektor informal, masih menghadapi ketidakadilan upah serta kondisi kerja yang rentan. Semangat advokasi R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menginspirasi gerakan buruh dan kebijakan ketenagakerjaan yang berkeadilan.
- Kesetaraan Gender dan Kepemimpinan Perempuan
- R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat mendirikan organisasi perempuan Katolik dan tampil di panggung Kongres Perempuan 1928, saat ruang publik bagi perempuan masih sangat terbatas.
- Relevansi kini: Meskipun kemajuan besar telah dicapai, perempuan masih menghadapi bias gender dalam bidang politik, ekonomi, dan pendidikan. Teladan R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menegaskan pentingnya kepemimpinan perempuan yang berlandaskan iman dan kompetensi.
- Integrasi Iman dan Nasionalisme
- R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menunjukkan bahwa kesalehan Katolik sejalan dengan cinta tanah air. Iman bukan alasan untuk menarik diri, melainkan dorongan untuk terlibat dalam perjuangan kebangsaan dan keadilan sosial.
- Relevansi kini: Di tengah polarisasi agama dan politik, teladan R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat mengingatkan bahwa religiusitas dapat menjadi kekuatan pemersatu serta mendorong dialog lintas iman.
- Keadilan Sosial sebagai Wujud Iman
- R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menafsirkan Ajaran Sosial Gereja dalam Rerum Novarum menjadi aksi nyata, seperti pendidikan, kursus keterampilan, dan peningkatan kesehatan masyarakat.
- Relevansi kini: Ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan eksploitasi tenaga kerja masih terjadi. Prinsip “iman yang diwujudkan dalam tindakan” mengajak umat beragama untuk tidak berhenti pada doa, tetapi bergerak memperbaiki struktur sosial.
- Pelayanan Tanpa Pamrih
- R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat hidup sederhana dan selalu menempatkan kepentingan rakyat kecil di atas kenyamanan pribadi.
- Relevansi kini: Di era konsumerisme dan maraknya korupsi, teladan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan, bukan keuntungan pribadi, sangat penting bagi pejabat publik, aktivis, dan masyarakat luas.
- Implementasi pada Masyarakat Masa Kini
- Pendidikan dan Literasi yang Menyeluruh
- Program Literasi Dasar:
- Menyelenggarakan kelas membaca, menulis, dan berhitung gratis bagi anak-anak maupun perempuan dewasa di desa dan kota.
- Menyediakan perpustakaan keliling atau pojok baca di lingkungan paroki dan komunitas.
- Pelatihan Keterampilan Modern:
- Menyelenggarakan kursus komputer, desain grafis, dan keterampilan digital agar generasi muda mampu bersaing di era teknologi.
- Mengadakan lokakarya kewirausahaan dan pelatihan manajemen keuangan rumah tangga untuk meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga.
- Pemberdayaan Perempuan dalam Keluarga, Masyarakat, dan Dunia Kerja
- Penguatan Kepemimpinan:
- Menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan bagi perempuan di sekolah, kampus, dan organisasi pemuda.
- Memberikan dukungan agar perempuan berani maju sebagai pengurus RT/RW, anggota dewan, atau pimpinan usaha.
- Pendampingan dan Mentoring:
- Membentuk komunitas pendampingan bagi ibu rumah tangga dan pekerja perempuan untuk berbagi pengalaman serta solusi.
- Menyelenggarakan konseling keluarga guna membantu perempuan menyeimbangkan peran domestik dan publik.
- Perjuangan Kesejahteraan Sosial dan Hak Pekerja
- Advokasi Kebijakan:
- Menggalang dukungan agar pemerintah menetapkan upah minimum yang adil serta menjamin kesehatan dan keselamatan kerja.
- Menyuarakan hak pekerja perempuan, termasuk cuti melahirkan dan perlindungan dari kekerasan di tempat kerja.
- Program Pendampingan Pekerja:
- Membentuk kelompok solidaritas buruh yang memberikan pelatihan hukum ketenagakerjaan.
- Menyediakan layanan konsultasi dan bantuan hukum bagi pekerja yang mengalami eksploitasi.
- Pelayanan Kesehatan Ibu, Anak, dan Keluarga
- Penyuluhan Gizi dan Kesehatan:
- Menyelenggarakan kelas gizi seimbang, edukasi kebersihan, dan pencegahan penyakit menular di tingkat RT/RW atau paroki.
- Mengadakan posyandu dengan tenaga kesehatan sukarela untuk memantau tumbuh kembang anak.
- Layanan Kesehatan Gratis atau Murah:
- Membuka klinik paroki atau pos kesehatan keliling untuk pemeriksaan ibu hamil, imunisasi anak, dan pemeriksaan rutin bagi lansia.
- Menyelenggarakan program donor darah dan vaksinasi massal bekerja sama dengan dinas kesehatan.
- Keterlibatan dalam Organisasi Sosial dan Kemasyarakatan
- Penguatan Organisasi Gereja dan Lintas Iman:
- Mengaktifkan kelompok basis gereja untuk proyek sosial lintas agama, seperti bakti lingkungan atau bantuan bencana.
- Mendorong kerja sama antara WKRI, karang taruna, dan organisasi pemuda lintas iman dalam kegiatan kemasyarakatan.
- Gerakan Solidaritas dan Gotong Royong:
- Menginisiasi bank pangan atau dapur umum bagi warga terdampak krisis ekonomi.
- Menyelenggarakan pelatihan tanggap bencana serta kegiatan donor sukarela sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat luas.
Leave a Reply