Artikel Sejarah Side Quest – Kelompok 2

五台山 豆腐丸子 (Wutai Shan Tofu Balls)

Latar Belakang

Gunung Wutai (五台山 / Wǔtáishān) terletak di Provinsi Shanxi, Tiongkok bagian utara. Daerah ini dikenal sebagai salah satu dari empat gunung suci agama Buddha di Tiongkok, bersama Emei, Jiuhua, dan Putuo. Sejak berabad-abad lalu, kawasan ini menjadi tempat berdirinya puluhan kuil besar, dan ribuan biksu menetap di sana untuk beribadah dan bermeditasi.

Nilai Kebudayaan

Dari lingkungan keagamaan inilah lahir berbagai tradisi kuliner vegetarian. Salah satu yang paling terkenal adalah 五台山豆腐丸子 atau Wutai Shan Tofu Balls, yaitu bola-bola tahu yang dibuat dari tahu segar, sayuran cincang, dan sedikit tepung sebagai pengikat. Hidangan ini merupakan simbol makanan sederhana namun bergizi, mencerminkan gaya hidup para biksu yang menjunjung tinggi kesederhanaan dan keseimbangan.

Sebagai bagian dari vegetarian temple cuisine (素斋, su zhai), Wutai Shan Tofu Balls dibuat tanpa daging, bawang putih, atau bawang merah, sesuai dengan pantangan dalam ajaran Buddhisme Mahayana. Makanan ini biasanya diolah dengan cara dikukus atau digoreng ringan, sehingga teksturnya lembut di dalam namun tetap kokoh di luar.

Dalam tradisi Buddhis, bentuk bulat dari bola tahu melambangkan kesempurnaan, keharmonisan, dan kebersamaan antar makhluk hidup. Karena itu, hidangan ini sering disajikan dalam acara keagamaan, perayaan tahun baru Imlek di biara, atau ketika menerima tamu dari jauh.
Selain itu, tahu juga dianggap sebagai bahan makanan “murni” karena berasal dari kedelai, yang diyakini memberi energi positif tanpa menyebabkan kekerasan terhadap makhluk lain.

Simbol dan Filosofi

Makna simbolis dari Wutai Shan Tofu Balls tidak hanya terletak pada bentuknya, tetapi juga pada proses pembuatannya. Campuran bahan sederhana seperti tahu, wortel, dan tepung yang digabung menjadi satu melambangkan persatuan dalam keberagaman, sesuai dengan nilai Buddhis tentang keseimbangan dan saling melengkapi.

Selain itu, hidangan ini mengajarkan filosofi “kesederhanaan yang mendalam” bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari kemewahan, melainkan dari kemampuan menikmati hal-hal kecil dengan hati yang tenang. Nilai ini masih dijaga di banyak biara Wutai hingga sekarang.

Perkembangan dan Penyebaran Masa Kini

Seiring berkembangnya pariwisata religi di Wutai Shan, tofu balls kini menjadi ikon kuliner khas daerah. Banyak restoran vegetarian di sekitar gunung, bahkan di kota besar seperti Taiyuan dan Beijing, menyajikan menu ini sebagai bagian dari Wutai-style vegetarian set.
Beberapa produsen lokal juga mulai membuat versi kemasan (vacuum-sealed) yang dijual kepada wisatawan sebagai oleh-oleh bertuliskan “五台山豆腐丸子”.

Di internet Tiongkok, banyak blog kuliner dan situs resep (seperti Xiachufang dan Zhihu) yang membagikan cara membuat hidangan ini di rumah. Walau begitu, resep tradisional versi biara, tanpa bawang dan minyak berlebihan masih dianggap paling autentik dan memiliki nilai spiritual tersendiri.

稷山麻花 (Jishan Mahua)

Latar Belakang

Jishan Mahua berasal dari Kabupaten Jishan (稷山县), yang terletak di bagian barat daya Provinsi Shanxi. Daerah ini memiliki sejarah panjang dalam pertanian biji-bijian, terutama gandum dan sorgum, yang menjadi bahan dasar berbagai makanan tradisional.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat Jishan mengembangkan teknik membuat kue goreng berbentuk pilinan yang disebut mahua (麻花), secara harfiah berarti “bunga wijen”.

Pada awalnya, mahua dibuat sebagai camilan sederhana untuk perayaan panen. Namun karena rasanya yang renyah, tahan lama, dan mudah dibawa, makanan ini kemudian menjadi oleh-oleh khas daerah.

Nilai Kebudayaan

Mahua merupakan camilan goreng dari adonan tepung terigu yang dipilin menjadi bentuk spiral lalu digoreng hingga kecokelatan. Biasanya ditambahkan bahan seperti madu, wijen, atau sirup gula untuk memberi rasa manis dan aroma khas.

Bentuk pilinannya yang berlapis-lapis memiliki makna simbolis yang mendalam yaitu melambangkan rezeki yang terus berputar dan kehidupan yang panjang. Karena itu, mahua sering disajikan saat perayaan Tahun Baru Imlek atau pesta pernikahan di Shanxi.

Selain itu, proses pembuatannya yang memerlukan keterampilan tangan dan kerja sama keluarga juga menggambarkan semangat gotong royong masyarakat pedesaan Tiongkok pada masa lalu.

Simbol dan Filosofi

Dalam budaya rakyat Tiongkok, makanan seringkali memiliki makna keberuntungan. Jishan Mahua dipercaya membawa doa untuk kehidupan yang “tidak terputus”, sama seperti pilinannya yang terus menyatu. Rasa manis dari madu dan tekstur garingnya menjadi lambang kebahagiaan, kemakmuran, dan kerja keras yang berbuah manis. Oleh karena itu, mahua tidak sekadar camilan, melainkan juga simbol harapan dan rasa syukur.

Perkembangan dan Penyebaran Masa Kini

Kini, Jishan Mahua telah berkembang menjadi produk industri kecil dan menengah di Shanxi. Banyak pabrik rumah tangga memproduksi versi modern dengan berbagai rasa yaitu madu, wijen hitam, kacang, bahkan varian asin. Produk ini dijual di seluruh Tiongkok dan melalui platform daring seperti Taobao, JD.com, hingga menjadi oleh-oleh wajib wisatawan yang datang ke Shanxi.

Beberapa toko tradisional di Jishan masih menjaga metode pembuatan manual dengan cara memilin adonan satu per satu menggunakan tangan, menjaga keaslian rasa dan teksturnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *