Warisan Kuliner Shanxi: Sejarah Wutai Shan Tofu Balls dan Jishan Mahua
Provinsi Shanxi di Tiongkok tidak hanya dikenal karena lanskap pegunungannya yang megah, tetapi juga karena warisan kuliner yang berakar kuat pada tradisi lokal dan keagamaan. Dua di antara hidangan khas yang merepresentasikan kekayaan budaya tersebut adalah Wutai Shan Tofu Balls dan Jishan Mahua. Keduanya mencerminkan hubungan erat antara makanan, sejarah, dan identitas masyarakat Shanxi.
Wutai Shan Tofu Balls (豆腐丸子)
Wutai Shan (五台山) merupakan kawasan pegunungan di provinsi Shanxi yang terkenal sebagai salah satu dari empat gunung suci dalam Buddhisme Tiongkok. Daerah ini dikenal dengan sebutan “ciri khas negeri Buddha”, karena makanan vegetarian sangat umum ditemukan di kawasan tersebut. Dalam konteks ini, dòufu wánzi atau bola-bola tahu, menjadi salah satu makanan tradisional yang mewakili ciri khas kuliner Wutai Shan.
Bola tahu ini dibuat dari tahu segar yang dihasilkan dengan metode tradisional, menggunakan air mata air lokal dan air pengendapan (jiang shui) untuk menciptakan tekstur tahu yang lembut dan segar. Setelah tahu dibuat, bahan dihancurkan, dicampur dengan bumbu seperti serbuk lada Sichuan. Kemudian, bahan-bahan diuleni hingga dapat dibentuk menjadi bola-bola. Bola tahu kemudian digoreng hingga bagian luar berwarna kecoklatan dan renyah sebelum akhirnya disajikan dalam sup atau masakan campuran sayur.
Secara historis, tofu balls telah menjadi bagian dari kuliner tradisional Wutai selama bertahun-tahun, biasanya disajikan dalam berbagai acara besar seperti perayaan, kegiatan keagamaan, serta jamuan bagi tamu kehormatan. Salah satu catatan sejarah menyebut bahwa pemimpin lokal Yan Xishan pernah menyajikan tofu balls, tahu beku, dan mie tepung kentang ketika menjamu Chiang Kai-shek di Wutai Shan. Karena kesesuaiannya dengan pola makan vegetarian dalam tradisi biara, tofu balls juga menjadi bagian penting dari atau hidangan vegetarian di kuil-kuil Wutai Shan.
Wutai shan Tofu balls juga melambangkan identitas budaya Wutai Shan yang berpadu dengan ajaran Buddhisme. Penggunaan bahan lokal, metode tradisional, serta perannya dalam perayaan dan perjamuan menjadikannya simbol keramahtamahan masyarakat setempat. Di wilayah yang berhawa dingin seperti Wutai, kehadiran makanan yang menghangatkan tubuh seperti bola tahu goreng dan sup juga menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap kondisi geografisnya.
Jishan Mahua (吉山麻花)
Jishan Mahua (吉山麻花) menonjol sebagai simbol kelezatan rakyat dalam kehidupan sehari-hari. Mahua, secara harfiah berarti “tali berminyak”, merupakan camilan dari adonan tepung yang dipilin atau dipelintir, lalu digoreng hingga renyah.
Camilan ini memiliki tekstur renyah, warna keemasan, serta rasa manis atau sedikit asin yang khas. Walaupun digoreng dalam minyak, Mahua tidak terasa terlalu berminyak, dan berbagai variasinya baik bentuk, ukuran, maupun rasa terus berkembang dari waktu ke waktu.
Jishan County, yang terletak di wilayah Yuncheng, Shanxi, dikenal sebagai tempat asal Mahua dengan sejarah panjang. Sejarah mencatat bahwa Jishan Mahua telah ada sejak Dinasti Sui (581–618 M). Pada masa-masa berikutnya, camilan ini bahkan dikenal di kalangan bangsawan dan istana. Tokoh-tokoh seperti Pei Yaoqing dari Dinasti Tang dan Ji Xiaolan dari Dinasti Qing berperan dalam memperkenalkan Mahua ke masyarakat yang lebih luas. Meskipun bentuk dan kemasannya kini beragam, teknik tradisional dalam pembuatannya mencampur tepung, memilin, dan menggoreng tetap dipertahankan selama berabad-abad.
Mahua berfungsi sebagai oleh-oleh khas Jishan dan bagian penting dari perayaan atau festival lokal. Daya tahannya yang lama menjadikannya ideal untuk disimpan atau dibawa bepergian, sehingga sering dijadikan hadiah makanan tradisional. Dengan demikian, Mahua tidak hanya menjadi camilan populer, tetapi juga simbol keuletan dan kearifan masyarakat Jishan dalam mempertahankan tradisi kuliner leluhur mereka.
Baik Wutai Shan Tofu Balls maupun Jishan Mahua mencerminkan spiritualitas dan kehidupan rakyat, yang merupakan dua sisi penting dari warisan kuliner Shanxi. Keduanya menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi cermin dari nilai-nilai budaya, kondisi geografis, dan sejarah sosial masyarakat. Dari kesederhanaan bahan lokal hingga teknik yang diwariskan lintas generasi, kuliner tradisional ini penanda identitas daerah, serta bukti hidup dari keberlanjutan tradisi dan makna budaya dalam sejarah panjang Shanxi.

Leave a Reply