R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat adalah salah satu tokoh perempuan Indonesia yang dikenal karena perannya dalam dunia pendidikan, pergerakan perempuan, dan perjuangannya melalui organisasi berbasis iman. Ia lahir di Yogyakarta pada tahun 1898, di tengah masa penjajahan Belanda yang keras dan penuh ketidakadilan. Sejak kecil, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat tumbuh dalam lingkungan sederhana yang sarat dengan nilai religius. Keluarganya menanamkan kedisiplinan, kejujuran, dan ketaatan pada ajaran Katolik. Hal inilah yang menjadi fondasi utama dalam hidupnya. Sejak masa kecil, ia terbiasa mengutamakan doa, pelayanan, serta kepedulian terhadap sesama. Hal tersebut semakin tampak jelas ketika ia dewasa dan menekuni perjuangan di bidang pendidikan serta pergerakan sosial.
Perjalanan hidup R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat diwarnai tekad kuat untuk belajar meskipun akses pendidikan pada masa itu terbatas. Sebagai perempuan pribumi, kesempatan bersekolah sering kali dianggap bukan prioritas. Namun, ia tidak menyerah. Dengan kegigihan, ia menempuh pendidikan yang tersedia dan menyadari betapa pentingnya ilmu bagi masa depan bangsa. Dari pengalaman pribadinya, ia bertekad bahwa anak-anak Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, harus memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan. Bagi R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat, pendidikan bukan sarana memperoleh pengetahuan, melainkan juga cara membangun manusia yang bermartabat, beriman, serta mampu membebaskan diri dari belenggu penjajahan.
Sebagai guru dan pendidik, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat terjun langsung ke masyarakat. Ia mendirikan sekolah rakyat, yaitu sekolah sederhana bagi anak-anak dari keluarga kecil yang tidak mampu mengakses pendidikan kolonial. Di sekolah-sekolah tersebut, ia mengajar dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan ketelatenan. Ia tidak hanya menekankan pelajaran akademis, seperti membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga membimbing murid-murid untuk hidup dalam iman, disiplin, dan cinta tanah air. Dalam setiap pelajaran, ia selalu menyelipkan nilai kejujuran, kerja keras, serta semangat persaudaraan. Baginya, mendidik adalah panggilan iman sekaligus perjuangan, sedangkan ruang kelas merupakan medan pengabdian untuk mencetak generasi penerus bangsa yang tangguh.
Selain mengabdikan diri di dunia pendidikan, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat aktif berorganisasi. Ia terlibat dalam Persatuan Wanita Katolik Republik Indonesia (PWKRI), organisasi perempuan berbasis iman Katolik yang lahir dari semangat untuk mengintegrasikan nilai keagamaan dengan perjuangan kebangsaan. Melalui PWKRI, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menggerakkan perempuan Katolik agar keluar dari keterbatasan peran domestik semata dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat luas. Ia mendorong perempuan Katolik untuk berani terlibat dalam bidang pendidikan, sosial, maupun politik, karena ia percaya bahwa iman tidak boleh berhenti di gereja, melainkan harus diwujudkan dalam pelayanan nyata. Dalam organisasi ini, ia aktif mengembangkan kegiatan pemberdayaan perempuan, kursus keterampilan, penguatan iman, serta menghubungkan perjuangan perempuan Katolik dengan perjuangan nasional.
Keterlibatan R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat di PWKRI menunjukkan kemampuannya menyatukan iman dengan nasionalisme. Ia tidak memandang identitas agamanya sebagai batasan, melainkan menjadikannya landasan moral untuk memperjuangkan keadilan. Ia mengajarkan bahwa menjadi perempuan Katolik berarti memiliki tanggung jawab membela sesama, memperjuangkan hak rakyat kecil, serta ikut membangun bangsa. Hal inilah yang membuatnya dihormati, baik di kalangan umat Katolik maupun masyarakat umum.
Selain PWKRI, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat juga aktif di Persatuan Wanita Katolik Republik Indonesia (PWKRI), organisasi perempuan yang lebih luas dan bersifat nasional. Dalam wadah ini, ia bersama tokoh perempuan lain berjuang memperjuangkan hak perempuan di bidang politik, pendidikan, dan sosial. Kehadirannya di PWKRI menunjukkan bahwa ia tidak membatasi diri hanya pada lingkup keagamaan, tetapi juga membuka diri untuk berjuang bersama perempuan dari berbagai latar belakang. Ia menjadi jembatan antara kepentingan iman dan kebangsaan serta memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan dan bangsa dapat berjalan beriringan.
Perjalanan hidup R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat tidak lepas dari tantangan. Ia menghadapi diskriminasi gender yang menganggap perempuan tidak pantas berada di ruang publik. Ia juga menghadapi keterbatasan fasilitas dalam mendidik rakyat kecil serta tekanan dari penjajah yang tidak menghendaki perkembangan pribumi. Namun, nilai iman yang ia pegang membuatnya tetap teguh. Ia percaya bahwa perjuangan merupakan bagian dari panggilan Tuhan dan segala pengorbanan yang ia lakukan adalah wujud ibadah. Hal inilah yang membuatnya mampu bertahan meski menghadapi kesulitan besar.
Dalam seluruh kiprahnya, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat selalu menekankan tiga hal utama, yakni pentingnya pendidikan untuk membangun bangsa, kesetaraan gender sebagai syarat keadilan, serta iman sebagai dasar perjuangan. Ia mengajarkan bahwa perempuan memiliki martabat yang sama dengan laki-laki di hadapan Tuhan, sehingga mereka juga memiliki kewajiban yang sama untuk membangun masyarakat. Pandangan ini jauh melampaui zamannya ketika perempuan masih banyak dipinggirkan. Justru karena keberanian itulah, ia dikenang sebagai tokoh besar.
Atas seluruh jasa dan pengabdiannya, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat. Gelar tersebut bukan hanya pengakuan formal, melainkan juga pengingat bagi bangsa Indonesia bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan dengan mengangkat senjata, tetapi juga melalui ilmu, iman, dan pelayanan. R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menempati posisi penting dalam deretan tokoh perempuan Indonesia yang berjasa, sejajar dengan R.A. Kartini, Dewi Sartika, dan Maria Walanda Maramis.
Hingga kini, warisan perjuangan R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat tetap terasa. Pendidikan memang telah lebih luas, tetapi kesenjangan masih ada. Perempuan sudah semakin terlibat dalam ruang publik, namun perjuangan melawan diskriminasi belum sepenuhnya selesai. Dalam konteks inilah, semangat R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat menjadi inspirasi yang tak lekang waktu. Ia mengajarkan bahwa perubahan hanya dapat dicapai melalui keberanian, pengorbanan, dan iman yang kokoh.
R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat bukan hanya pahlawan pendidikan maupun aktivis perempuan, tetapi juga teladan iman. Ia membuktikan bahwa nilai keagamaan dapat menjadi kekuatan besar untuk mendorong perubahan sosial. Ia menunjukkan bahwa religiusitas tidak berarti pasif, melainkan aktif dalam melayani sesama dan memperjuangkan kebenaran. Dengan perjalanan hidupnya, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat meninggalkan jejak sejarah yang indah sebagai seorang perempuan Katolik yang mengabdikan seluruh hidupnya demi pendidikan, kesetaraan, dan kemerdekaan sejati bangsa Indonesia.
Leave a Reply