Artikel – Karel Satsuitubun

Kehidupan Awal

Ajun Inspektur Polisi Dua Anumerta Karel Sadsuitubun atau akrab dikenal dengan nama KS Tubun (lahir 14 Oktober 1928) merupakan seorang polisi berpangkat Bhayangkara Dua yang gugur dalam peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September atau G30S PKI pada tahun 1965. KS Tubun memiliki keistimewaan, mengingat hanya satu-satunya anggota kepolisian yang ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi pada saat itu. Pahlawan kelahiran Tual, Maluku Tenggara ini meniti karir sebagai polisi sejak Agustus 1951 dimulai dengan memasuki Sekolah Polisi Negara di Ambon. Setelah lulus, Tubun ditugaskan di Kesatuan Brimob Ambon dengan pangkat Agen Polisi Kelas Dua atau Bhayangkara Dua. Semasa hidupnya, ia pernah terlibat dalam operasi Tri Komando Rakyat atau Trikora di Irian Barat dalam misi operasi pengembalian Irian Barat kepada Indonesia dari tangan Belanda. Tubun juga aktif bertugas pada peristiwa pergolakan DI/TII di Aceh (1949-1962) dan Kahar Muzakkar dan Permesta di Sulawesi (1965) sebelum akhirnya dipindah tugaskan kembali ke Jakarta untuk mengawal kediaman Dr. J. Leimena hingga wafat di usianya yang ke 37 tahun dalam pengabdiannya sebagai Bhayangkara Negara.

Nilai Teladan

Beberapa hal yang dapat diteladani dari tokoh KS Tubun adalah sikapnya yang menjunjung tinggi toleransi antar sesama. Toleransi yang dimilikinya terlihat dalam perannya sebagai tokoh yang teguh berprinsip untuk melindungi setiap elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang dan agama selama masa kemerdekaan dan reformasi di Negara Indonesia. Menurut Kamal dan Maknun (2023), toleransi dapat diartikan sebagai perilaku yang menghargai perbedaan di sekitar kita, baik itu tentang kepercayaan, ras, bahasa, atau lainnya, selama tidak provokatif atau melanggar aturan yang telah ditetapkan. Sikap ini terbentuk dalam diri Tubun karena sejak kecil ia dibesarkan di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan yang memiliki kerukunan antar umat beragama. Seperti yang telah kita ketahui, sifat ini dapat dibentuk melalui kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dalam kegiatan sehari-hari. Manusia yang menjujung tinggi sikap toleransi tidak akan merasa terganggu dengan perbedaan ras, bahasa, kepercayan serta pemahaman yang dimiliki orang lain. Mereka percaya bahwasannya setiap insan di dunia diciptakan dengan sebaik-baiknya serta memiliki keunikan masing-masing.

Selain itu, KS Tubun juga dikenal dengan loyalitas dan tanggung jawabnya yang besar. Loyalitas adalah suatu keadaan yang menyangkut fisik, psikis maupun sosial yang menyebabkan individu mempunyai perasaan memiliki yang kuat, dan rasa tanggung jawab serta kesediaan untuk memberikan sumbangan terhadap upaya pencapaian tujuan organisasi (Siswanto dan Prasetyo, 2025). Hal tersebut dibuktikan dengan tindakan heroik yang ia lakuan saat itu untuk melindungi A. H Nasution yang rencananya hendak diculik oleh kelompok PKI sebagai bagian dari upaya kudeta untuk dapat menggulingkan pemerintahan Soekarno dan mendirikan negara komunis. Tubun sempat memberikan perlawanan kepada pasukan G30S meskipun senjatanya telah berhasil direbut hingga ia akhirnya tewas dengan beberapa peluru yang bersarang di tubuhnya.

Nilai-nilai tersebut masih relevan apabila dikaitkan dengan kondisi masyarakat saat ini. Semangat pengorbanan seperti rasa tanggung jawab, toleransi dan loyalitas terhadap tanah air harus tetap diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara supaya dapat menjadi motivasi untuk terus menjaga persatuan mengingat di era revolusi industri 4.0 ini, musuh terbesar kita khususnya generasi muda masih ada, yakni kemajuan dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi yang mana dampaknya dapat melunturkan karakter dan kesatuan bangsa. Sebagai generasi yang tumbuh di era kemajuan teknologi, hendaknya kita dapat terus menjaga persatuan supaya tidak mudah termakan isu tidak benar atau hoax yang banyak beredar melalui platform social media yang mana dapat memecah belah bangsa. Menurut Santoso et al., (2023), keberhasilan dalam membangun dan melestarikan nilai luhur kepahlawanan ke dalam karakter masyarakat saat ini dapat meningkatkan harapan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan berkarakter.

Inspirasi Bagi Kita

Salah satu cara yang dapat diterapkan untuk dapat mengimplementasikan nilai kepahlawanan di era digital ini melalui sikap bijaksana dalam menyikapi kemajuan teknologi. Kebiasaan yang paling mudah diterapkan kaitannya dengan loyalitas dan tanggung jawab sebagai pelajar adalah belajar dengan bersungguh-sungguh dan tidak menyalahgunakan kemajuan teknologi dalam proses pembelajaran seperti penggunaan Artificial Intelligence yang berlebihan. Selain itu, penerapan sikap toleransi yang dapat dilakukan yaitu dengan tidak membedakan teman atau orang lain di sekitar karena ketidaksamaan ras, etnis, agama, dan fisik.

DAFTAR PUSTAKA

Kamal, K. A dan Maknun, L. 2023. Implementasi Sikap Toleransi Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal Gentala Pendidikan Dasar. 8 (1) : 52-63.

Matanasi, P. 2017. KS Tubun Sosok Pahlawan Polisi Pertama. https://tirto.id/ks-tubun-sosok-pahlawan-polisi-pertama-cwPE (Diakses pada 25 September 2025)

Santoso, G., Syawhas, D. K., Yati, F., Zahra, S. A dan Prasasti, A. 2023. Mengenal Pahlawan Daerah dan Nasional Indonesia Sebagai Edukasi Bagi Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Transformatif. 2 (2) : 336-348.

Siswanto, A dan Prasetyo, I. 2025. Analisis Pengaruh Kepemimpinan Otentik dan Self-Efficiacy Terhadap Kinerja Prajurit Dengan Loyalitas Sebagai Variabel Intervening Pada Satkat KOARMADA II Surabaya. Jurnal Manajemen dan Administrasi Publik. 8 (1) : 9-23.

Tempo. 2023. Kisah KS Tubun di Malam G30S, Satu-satunya Polisi Pahlawan Revolusi. https://www.tempo.co/politik/kisah-ks-tubun-di-malam-g30s-satu-satunya-polisi-pahlawan-revolusi-132543 (Diakses pada 25 September 2025)


One response to “Artikel – Karel Satsuitubun”

  1. Anonymous Avatar
    Anonymous

    Keren

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *